Dongeng Binatang Anak Pipit dan Kera

Advertisement | Posted , Cerita Anak, Dongeng Anak


Dongeng Binatang. Ada kera yang tinggal di sebuah pohon di tepi danau. Kera itu ditinggal kawan-kawannya karena egois, menganggap pohon kesukaannya sebagai milik sendiri. Kera lain tak diizinkannya tinggal, bahkan pinggiran danau itu pun dianggap kekayaan pribadi.

Seekor itik sebenarnya selalu pergi ke tempat itu. Dia biasa mandi sampai puas, dan mencari makan di situ sampai kenyang. Kera yang mula-mula diam, begitu mendapatai air jadi keruh marah-marah pada si itik.
“Hei, … tak tahu malu! Ini kan tempatku! kata kera membentak itik. “Ngaca dong, rupamu tak elok! Patuk seperti sendok! Mata sipit seperti kutu busuk! Sayap lebar seperti atap nipah! Jari-jari berselaput! Pergi sana itik jelek! Tentu saja itik malu dan sakit hati. Ia ingin menantang kera berkelahi, tapi dia tahu pasti akan kalah karena badannya kecil. Dia pun pergi sambil menangis.

Kepergian itik diperhatikan burung pipit yang sedang menyuapi anak-anaknya. “Hai itik, mengapa kau menangis di jalanan? Mungkinkah kau dapat kutolong?
“Kera besar di tepi danau menghinaku, jawab itik. “Aku malu.Itulah kenapa aku menangis.
“Ooo begitu. Sudah diamkans aja, dia memang begitu.
“Begini saja. Sekarang jangan menangis lagi. Dan besok, … pergilah ke danau itu seperti biasa, mandilah sepuasmu dan carilah makan yang kau mau, kata pipit menghibur.
“Aku takut! Aku malu dimaki-maki kera itu.
“Jangan takut! Kalau kera itu memakimu balaslah! Sebutkan segala keburukannya! Induk pipit pun mengajari itik membalas olok-olok kera.
“Terima kasih. Kalau begini aku akan mandi lagi ke danau itu seperti nasihatmu. Dengan perasaan tenang, itik kembali ke rumah. Kekesalannya sudah terhibur dengan nasihat induk pipit.

Hari esoknya, itik itu mandi sepuas-puasnya di danau seperti biasa. Bukan main marahnya kera menemukan air danau jadi keruh lagi. “Hei, berhenti! Apa kau tak punya malu? jeritnya dari atas dahan. Itik pura-pura tidak mendengar. Dia terus mandi dan mengepak-ngepakkan sayapnya,.. berulang-ulang seperti itu sampai puas.

Kera pun kembali mencaci itik sepuas-puasnya. Kali ini si itik mendengarkan dengan tenang, sambil menunggu kesempatan membalasnya. Setelah kera selesai menjelek-jelekkan, itikmulai ambil bagian.
“Apakah engkau merasa cantik, hai monyet?? Berkacalah di muka air danau ini, … Perhatikan tubuhmu ditumbuhi bulu-bulu kasar! Tatap kepalamu, … seperti ampas mangga hutan! Dan dengar ya monyet, … Telapak tanganmu hitam kotor!
Sebelum lengkap itik mencaci, kera itu sudah menyela, “Mulut lancang! Pasti ada yang mengajarimu! “Tentu saja monyet angkuh! Tak jauh dari sini ada induk pipit membuat sarang, … dialah yang memberitahu aku keburukanmu itu. “Kurang ajar! Aku akan datang ke sarangnya!
Kali ini itik bisa pulang dengan rasa senang. Tidak lupa dia kabari burung tentang niat busuk kera sombong. “Ow!!! Alangkah bodohnya engkau! kata induk pipit. “Mestinya tak kau tunjukkan yang ngajari kamu! Jadi kamu tak hanya jelek, engkau pun tolol, kata pipit kecewa.

Sebelum induk pipit mengungsi, kera sudah datang dan menerkam. Dengan sigap pipit pun terbang, walau anak-anaknya tidak terselamatkan. Dengan jengkel si kera memasukkan anak pipit ke mulut. Sarang pipit diacak-acak, dia diami pohon itu sambil menunggu pipit kembali. Dia merencanakan, bila pipit mencari anaknya akan ia terkam induk itu.
Sementara itu anak pipit ketakutan di dalam kegelapan mulut kera. Sebaliknya, si kera takut bila anak pipit itu terbang. Anak pipit pun mengeluh, dan selalu dijawab kera dengan menggumam.
“Apakah Ibuku sudah datang? “Mmm-mmm …!
“Apakah Ibuku sudah mandi? “Mmrn-mmm …!
“Apakah bapak ibuku sudah tidur? “Ha-ha-ha-ha-ha …!
Kera tak dapat menahan geli, mulutnya terbuka lebar, dan … brrrrr anak pipit langsung terbang.
“Kurang ajar! kera menyumpah sejadi-jadinya.

Kera merasa tertipu, apalagi anak pipit itu meninggalkan kotoran sesuatu di lidahnya. Kera benar-benar merasa kalah, sudah ditinggalkan anak-beranak, masih ditinggali kotoran pula.

Kera marah sampai kehilangan akal sehat. Dia cari sembilu tajam, dipotongnya lidah yang dikotori tahi anak pipit hingga darah mengalir tanpa henti. Dia menggelepar kesakitan, jatuh, dan … mati.

Demikianlah Dongeng Binatang Anak Pipit dan Kera ... Selesai


Related Post to Dongeng Binatang Anak Pipit dan Kera

Dongeng Anak Jepang Tanabata

Dongeng Anak. Pada zaman dahulu, di sebuah desa kecil hiduplah seorang pemuda miskin. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya pemuda tersebut menjual gerabah. Setiap hari ia berjalan dari kampung ke kampung untuk menawarkan gerabah buatannya. “Gerabah… gerabah…!!! teriaknya setiap hari. Meskipun sangat berat dan...

Dongeng Rakyat Telaga Bidadari

Dahulu kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia bernama Awang Sukma. Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan pohon yang sangat besar....

Dongeng Anak Burung Bangau dan Seekor Ketam

Dongeng Anak Burung Bangau dan Seekor Ketam. Alkisah, pada zaman dahulu terdapat sebuah danau indah berair jernih dan ditumbuhi pohon-pohon teratai yang senantiasa berbunga sepanjang masa. Di sekeliling danau itu pun tidak kalah indahnya karena ditumbuhi oleh pohon-pohon rindang yang berjejer rapi....

Dongeng Anak Putih Salju

Dongeng Anak Putih Salju. Dahulu kala, semua benda di alam ini mempunyai warna. Kecuali Salju. Tanah bewarna cokelat, Rumput bewarna hijau, Mawar bewarna merah, Langit bewarna biru, dan Matahari bewarna keemasan. Tidak ada warna yang tersisa untuk Salju. “Sungguh aneh, kalau aku...